Minggu, 27 November 2016

Mengelola Keuangan yang Sehat

Sehat itu tidak hanya bagus untuk tubuh. Jika keuangan kita pun sehat, maka semuanya dijamin lancar.Sehari-hari mungkin anda membuat pilihan tentang bagaimana, di mana dan kapan Anda akan menghabiskan uang Anda. Pilihan ini dapat memiliki mempengaruhi besar padakehidupan finansialAnda. Apakah anda menghabiskan banyak uang dengan kartu kredit setiap bulan? Apakah Anda menyimpan uang secara teratur? Kemana Uang Anda Pergi? Jika Anda tidak melacak pengeluaran Anda, Anda tidak tahu bagaimana Andamenghabiskan uangAnda. Ketika Anda tahu dari mana uang Anda masuk dan keluar, Anda merasa lebih memegang kendali. Luangkan waktu untuk berpikir tentang pengeluaran Anda.
Berikut ini adalah beberapa perilaku mengelola keuangan yang dapat mengubah hidup Anda, tentunya mengubah menjadi lebih baik. Perilaku ini fungsinya sederhana yaitu meningkatkan kendali dan pengawasan terhadap uang dan kondisi keuangan Anda.
Membuat Anggaran.Cara pertama agar Kita dapat mengendalikan keuangan adalah membuat anggaran. Seorang ahli manajemen bernama Peter Drucker mengatakan: jika Anda tidak dapat mengukur, Anda tidak dapat mengelolanya.Penulis mengakui membuat anggaran adalah salah satu hal yang membosankan dan bukan hal yang umum bagi sebagian orang. Pembuatan anggaran biasanya dibuat oleh istri. Kebiasaa tersebut sebaiknya diperbaiki dengan: membuat anggaran adalah tugas bersama antara Ayah dan Ibu.Apa manfaat membuat sebuah anggaran? Tentu saja Anda dapat mengendalikan pos-pos pengeluaran mana yang perlu dihemat, pos pengeluaran mana yang harus ditingkatkan dan sebagainya.Setelah membuat anggaran, hal apa yang harus dilakukan?
Mencatat Pengeluaran Harian.Mencatat pengeluaran harian adalah kebiasan atau perilaku yang belum lazim. Mencatat pengeluaran harian adalah salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran-pengeluaran. Pastikan pengeluaran actual mengikuti anggaran yang telah dibuat.Setelah membuat anggaran dan mencatat pengeluaran harian, langkah berikutnya adalah melakukan audit. Jangan mempersepsikan istilah audit dengan sebuah langkah yang kompleks dan susah. Lakukan audit keuangan keluarga Anda dengan cara yang sederhana. Mengecek bon atau nota dengan catatan. Membandingkan pengeluaran actual (yang ada di catatan pengeluaran harian) dan anggaran yang telah dibuat. Hasil dari audit bulanan ini digunakan sebagai cara pembelajaran, pengendalian dan umpan balik (feedback) dalam membuat anggaran bulan depan.
Membuat dan Melakukan Perencanaan Keuangan.Perilaku mengelola keuangan selanjutnya adalah melakukan perencanaan keuangan dan mulai melaksanakan. Perencanaan keuangan adalah salah satu cara untuk memenuhi tujuan-tujuan keuangan Anda, seperti dana darurat, dana pendidikan, dana hari tua, dana pembelian rumah dan lain sebagainya.Perencanaan keuangan ini dapat Anda lakukan sendiri atau dengan jasa professional perencana keuangan.
Cek Perkembangan Anda.Langkah berikutnya adalah mulai melakukan pengecekan perkembangan usaha yang sudah dilakukan. Pengecekan dilakukan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang Kita lakukan. Contoh Kita berinvestasi pada produk keuangan yang kurang sesuai dengan kebutuhan, perhitungan asumsi inflasi terlalu rendah, mengecek kebutuhan pendapatan pasif agar dapat bebas keuangan dan lain sebagainya.
Mungkin ada baiknya Anda juga mengubah cara Anda menghabiskan Uang.Setelah menilai bagaimana Anda mengelola uang Anda, Anda mungkin ingin mengubah kebiasaan pengeluaran dan menabung. Mampu mengelola lebih baik uang Anda akan membantu Anda mempersiapkan masa depan. Kebiasaan pengelolaan uang yang buruk terkadang dapat sulit untuk dikendalikan. Untuk mengatasi kebiasaan yang tidak diinginkan, pertimbangkanlah hal ini:
  1. Apa yang saya dapatkan? Jika Anda menghabiskan banyak uang tetapi menabung hanya sedikit, apa yang Anda dapatkan di masa tua? Anda bisa menikmati hidup sekarang dengan nyaman, tetapi bagaimana hari esok? Apakah selamanya anda akan sehat-sehat saja?
  2. Lihat sisi negatifnya? Jika Anda pergi belanja dan tidak membayar tagihan listrik Anda, Anda mendapatkan ?kesenangan? sementara waktu tetapi Anda mungkin kehilangan layanan yang sangat penting. Jika Anda tidak menyimpan uang, apa yang bisa terjadi jika timbul keadaan darurat? Jika Anda menyadari hal ini, Anda mungkin menyadari bahwa Anda tidak membuat pilihan yang baik.
  3. Berpikirlah sebelum Anda belanja. Setiap kali Anda menghabiskan uang tiu berarti Anda membuat pilihan resiko. Pilihan Anda harus mencerminkan nilai-nilai dan tujuan-tujuankeuangan. Sebelum mengeluarkan uang tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya membutuhkannya? Bolehkah aku membelinya? Apa ini benar-benar mendesak?
  4. Lakukan kebiasaan yang baik. Jika Anda benar-benar ingin menghilangkan kebiasaan buruk yang berkaitan dengan pengelolaan uang, gantilah dengan kebiasaan yang baik. Ini tidak mudah tetapi bisa jika dibiasakan. Sebagai contoh, kurangilah pengeluaran melebihi anggaran pada pakaian desainer, mulai menyisihkan uang untuk membayar uang muka rumah atau tujuan lainnya. Anda harus benar-benar ingin menghilangkan kebiasaan buruk, dan Anda harus berlatih untuk berubah.

Seberapa sehat keuanganmu?


JAKARTA. Sudah 90 hari sejak tahun baru, apa saja yang telah Anda lakukan untuk keuangan Anda? Mengevaluasi kesehatan keuangan adalah hal paling mendasar yang wajib Anda lakukan sebelum mulai berinvestasi.


Seseorang yang sehat secara finansial, umumnya tahu kondisi aset dan utangnya, mampu untuk selalu bayar cicilan utang tepat waktu, dan tahu bagaimana cara menggunakan aset dan sisa arus kas untuk mencapai berbagai keinginan dalam hidup. Apakah ini Anda?

Cara termudah untuk mengetahui kesehatan keuangan adalah dengan melakukan financial check up. Proses ini bisa dikerjakan sendiri atau pun bisa dengan konsultasi bersama seorang perencana keuangan. Anda akan diajak untuk menghitung ulang jumlah aset dan jumlah utang yang dimiliki saat ini. Selain itu, Anda juga akan diminta untuk membeberkan berapa jumlah penghasilan yang diterima setiap bulan dan ke mana saja larinya penghasilan tersebut.

Ada lima area yang harus Anda perhatikan untuk menentukan seberapa sehat keuangan Anda, dan seberapa dekat Anda dalam mencapai berbagai keinginan dalam hidup.

Pertama, dana darurat. Setiap orang wajib punya dana darurat setidaknya 3 kali pengeluaran rutin bulanan. Jadi, kalau tiap bulan perlu Rp 5 juta untuk hidup, maka jumlah dana darurat minimal adalah Rp 15 juta. Meski demikian, saya sangat sarankan Anda untuk menargetkan 12 kali pengeluaran rutin bulanan, mengingat kondisi ekonomi global yang masih kurang menentu.
Dana darurat ini harus berbentuk aset likuid dan nilainya tidak turun, seperti tabungan, deposito, dan reksadana pasar uang. Jika saat ini tidak punya dana darurat, mulailah menyisihkan 10% dari penghasilan, sedikit demi sedikit hingga hasil ideal tercapai.

Kedua, utang. Jumlahkan semua pembayaran minimum tagihan utang Anda. Ini termasuk kartu kredit, kredit kendaraan, kredit perumahan, dan kredit dana tunai. Jumlah total pembayaran segala cicilan utang Anda tidak boleh melebihi 35% dari penghasilan rutin bulanan. Khusus untuk cicilan kredit perumahan, porsinya tidak bisa melebihi 30% dari penghasilan rutin bulanan.
Misalkan, gaji bulanan Rp 10 juta, maka maksimal cicilan adalah Rp 3 juta. Jika cicilan Anda melebihi itu, Anda harus kerja ekstra membayar pokok utang agar cicilan per bulan bisa turun.

Jangan lupa diversifikasi

Ketiga, pundi-pundi pensiun. Siapkan masa depan Anda dengan mulai berinvestasi untuk dana pensiun. Percaya atau tidak, Anda pasti akan mengalami masa penurunan produktivitas. Untuk Anda yang karyawan, pasti akan pensiun. Untuk Anda yang punya bisnis, ada masanya meneruskan bisnis ke anak. Merencanakan dana pensiun sangat vital untuk Anda yang tidak rela punya gaya hidup yang menurun di masa depan.
Coba periksa berapa banyak dari penghasilan sekarang yang disisihkan untuk investasi pensiun. Anda yang karyawan, umumnya telah menyisihkan 8% dari gaji dalam bentuk JHT Jamsostek dan produk DPLK. Tapi, nilai ini tidak cukup!

Usahakan untuk menyisihkan 10% dari penghasilan ke produk investasi yang sesuai untuk dana pensiun. Jika ada bonus atau THR, Anda bisa gunakan momentum ini untuk menambal kekurangan investasi di bulan-bulan sebelumnya.

Keempat, pundi-pundi pendidikan. Di Indonesia, biaya pendidikan menjadi ketakutan terbesar banyak orangtua. Bagaimana tidak, dengan kenaikan biaya pendidikan yang rata-rata bisa mencapai 15% per tahun, Anda tidak bisa trial and error dalam mempersiapkan masa depan si buah hati.
Pastikan Anda sudah menghitung berapa kebutuhan dana pendidikan anak Anda dan Anda sudah berinvestasi untuk mencapainya. Ingat, saya minta Anda berinvestasi, bukan berasuransi untuk menambah saldo dana pendidikan.

Kelima, asuransi. Melindungi nilai aset dan nilai ekonomis jiwa Anda sangatlah penting. Satu kejadian sakit keras atau musibah yang dapat melenyapkan rumah, dapat menghancurkan kesehatan keuangan Anda. Jika Anda punya tanggungan (anak, orangtua, atau saudara), maka punya asuransi jiwa murni menjadi wajib untuk Anda.
Proteksi diperoleh dengan asuransi, menambah jumlah kekayaan yang diperoleh dengan menabung dan berinvestasi. Evaluasi kebutuhan proteksi Anda, dan pastikan Anda punya asuransi yang benar-benar dibutuhkan oleh keluarga Anda.

Keenam, diversifikasi kekayaan. Mari evaluasi aset, dana pensiun, dan dana pendidikan Anda. Apakah aset Anda terdiversifikasi dengan baik? Atau, nyaris 100% uang Anda ada di tabungan dan deposito? Memiliki aset yang tersebar di tiga alokasi berbeda adalah hal yang bijaksana. Kombinasi yang harus ada: aset likuid stabil (tabungan, deposito), aset investasi fisik (logam mulia, properti), dan aset investasi di pasar modal (reksadana, ORI, sukuk ritel, saham).
Untuk masing-masing kategori, Anda bisa pilih salah satu. Perhatikan tujuan finansial Anda, situasi Anda saat ini, dan berapa banyak waktu yang Anda punya untuk mencapai berbagai keinginan tersebut.

Memiliki keuangan yang sehat adalah langkah awal menuju tahap financial freedom. Seperti halnya tubuh manusia, kesehatan keuangan itu harus diraih dan dipelihara. Pastikan rapor Anda hijau untuk enam prioritas di atas. Betul, sehat itu bukan segalanya. Tapi, tanpa sehat, segalanya jadi tak berarti. Live a beautiful life!

sumber:http://personalfinance.kontan.co.id/news/seberapa-sehat-keuanganmu

Sehat Keuangan Dahulu, Investasi Reksa Dana Kemudian... Selasa, 7 April 2015 | 07:08 WIB

Oleh Rudiyanto*
@rudiyanto_zh

KOMPAS.com - reksa dana memiliki slogan pahami, nikmati. Artinya investor diminta untuk memahami risiko dan cara kerjanya, baru menikmati hasil keuntungan reksa dana

Pertanyaannya, apakah dengan paham saja sudah cukup? Tentu tidak. Jika diibaratkan, proses investasi reksa dana untuk mencapai tujuan keuangan adalah maraton, bukan sprint

Untuk bisa “berlari” dalam jangka panjang, tentu tidak cukup hanya punya target mau mencapai garis finish dan bagaimana cara berlari yang benar saja, akan tetapi fisik juga harus dipersiapkan.

Investasi reksa dana juga demikian. Secara keuangan, kita harus sehat sebelumnya melakukan investasi di reksa dana. Jika tidak, ibarat lari maraton, sebelum sampai pada tujuan anda sudah berhenti karena “kram” di tengah jalan.

Seperti apa kondisi keuangan yang dikatakan sehat sehingga seseorang bisa menjadi investor reksa dana yang baik ? Sama seperti tes darah, sehat atau tidaknya seseorang bisa dari angka indikator seperti kandungan gula darah, kolestrol, asam urat, creatin, dan lainnya.

Secara keuangan, caranya juga kurang lebih demikian. Bedanya, bahan yang di tes adalah 4 informasi keuangan pribadi yaitu penghasilan, pengeluaran, harta dan utang. 

Berdasarkan informasi keuangan tersebut, sehat atau tidaknya keuangan seseorang bisa diukur menggunakan angka rasio sebagai berikut:

1. Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran
Pendapatan adalah semua penghasilan yang sifatnya rutin seperti gaji dan tidak rutin seperti komisi. Pengeluaran adalah mulai dari belanja kebutuhan rutin, tranportasi, rekreasi, cicilan utang dan lainnya. 

Yang tidak termasuk pengeluaran adalah kegiatan investasi seperti menabung uang di bank, membeli emasreksa dana dan instrumen investasi lainnya secara uang tunai.

Misalkan pendapatan anda secara bulanan rata-rata Rp 12 juta dan pengeluaran anda adalah Rp 10 juta, maka Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran adalah Rp 12 juta dibagi Rp 10 juta = 1,2. Sehat adalah jika rasio ini di atas angka 1.

2. Rasio Cicilan Produktif dan Cicilan Konsumtif
Dengan harga tanah, rumah, apartemen, mobil, motor yang semakin meningkat, adalah sangat wajar jika seseorang memiliki utang. 

Sepanjang utang ini dipergunakan untuk tujuan yang sifatnya produktif, maka seseorang masih bisa dikatakan sehat secara keuangan.

Ada 2 kondisi berutang yang bisa menyebabkan seseorang dikatakan tidak sehat secara keuangan. Pertama cicilan utang produktif dibagi dengan total pendapatan bulanan lebih besar dari 30 persen.

Misalkan penghasilan anda Rp 10 juta, untuk menunjang tranportasi ke kantor anda mengambil cicilan mobil dengan nilai Rp 4 juta setiap bulan. Sehingga jika dihitung rasionya 40 persen (Rp 4 juta bagi Rp 10 juta). 

Kedua, cicilan utang konsumtif dibagi dengan total pendapatan bulanan lebih besar dari 0 persen. Yang dimaksud dengan cicilan utang konsumtif adalah cicilan yang dipergunakan untuk membeli barang yang sifatnya konsumtif seperti smartphone, perhiasan, dan lainnya.

Artinya begitu punya utang konsumtif, langsung seseorang dinyatakan tidak sehat secara keuangan. Sedikit fleksibilitas, apabila smartphonedipergunakan untuk membantu pekerjaan bisa dikategorikan produktif. Jika mayoritas hanya digunakan untuk main game, maka masuk kategori konsumtif.

3. Rasio Dana Darurat
Dana Darurat adalah sejumlah uang yang disimpan dalam bentuk yang mudah dicairkan. Bisa tabungan, emas batangan, ataupun reksa danapasar uang.

Seseorang dikatakan sehat apabila rasio antara Dana Darurat dibandingkan dengan pengeluaran bulanannya antara 3 – 12 kali bulan pengeluaran. Misalkan total tabungan di bank adalah Rp 30 juta, sementara rata-rata pengeluaran per bulan Rp 10 juta, maka diperoleh rasio 3 (Rp 30 juta dibagi Rp 10 juta).

Dana darurat sangat penting karena ketika ada kejadian seperti keluarga atau teman dekat masuk rumah sakit, terkena PHK, atau kondisi darurat lainnya kita tidak perlu panik dan terpaksa menjual semua aset kita dengan harga Butuh Uang alias BU.

Bahkan ketika terjadi gejolak di bursa saham, sebagian dari dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membeli di harga rendah.

Semakin banyak anggota keluarga, maka semakin banyak dana darurat yang dibutuhkan. Namun terlalu banyak juga tidak baik karena hasil pada instrumen investasi yang mudah dicairkan itu biasanya tidak besar.

4. Rasio Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa
Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada tertanggung apabila yang bersangkutan membeli asuransi jiwa dan mengalami risiko meninggal dunia.

Kenapa asuransi penting? Sebab ketika seseorang yang menjadi tulang punggung pencari nafkah meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan akan mengalami kesulitan. 

Dengan adanya asuransi, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga tersebut selama beberapa waktu sampai mereka bisa mandiri dan menafkahi diri sendiri.

Sama seperti dana darurat, tidak ada asuransi jiwa tidak baik, tapi terlalu banyak juga tidak baik karena biaya asuransi yang dibayarkan cukup besar. 

Besaran uang pertanggungan asuransi yang wajar untuk seseorang atau disebut juga dengan istilah Human Life Value adalah sekitar 8 – 10 tahun pengeluaran ditambah biaya pendidikan hingga anak lulus perguruan tinggi.

Sebagai contoh, jika pengeluaran per bulan adalah Rp 5 juta dan untuk menyekolahkan anak sampai dengan lulus butuh Rp 100 juta, maka besaran uang pertanggungan yang sesuai Human Life Value adalah Rp 5 juta x 120 bulan + Rp 100 juta = Rp 700 juta.

Mengapa asuransi lain seperti kesehatan, penyakit kritis dan cacat tetap tidak diperhitungkan? Sebab saya mengasumsikan semua tersebut dalam kondisi terburuk sudah ditanggung negara melalui program BPJS Kesehatan.

Kesimpulan
Jadi, seseorang dikatakan sehat secara keuangan sehingga sudah siap untuk menjadi seorang investor reksa dana yang diharapkan bisa mencapai kesuksesan finansial, maka indikatornya sebagai berikut :

Indikator
Keterangan Sehat
Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran
> 1
Rasio Cicilan Produktif
Rasio Cicilan Konsumtif
Maks 30%
Maks 0%
Rasio Dana Darurat
Antara 3 – 12
Rasio Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa
8 – 10 Tahun + Biaya Pendidikan anak

Membuat kondisi keuangan yang sehat selalu tidak mudah. Apalagi bagi kaum muda yang baru pertama kali masuk kerja. Boro-boro ada yang bisa disisihkan. Bisa cukup sampai dengan akhir bulan saja sudah syukur.

Untuk itu, persiapan untuk 2 indikator yaitu dana darurat dan pertanggungan asuransi jiwa dapat dilakukan secara pararel. Artinya meski dana darurat dan asuransi jiwa belum punya atau masih sedikit, investasi reksa dana sudah bisa dimulai.

Jika memang penghasilannya benar-benar tidak cukup, minimal fokus pada dana darurat dulu. Asuransi baru penting ketika seseorang sudah menikah dan menjadi kepala keluarga.

Mempersiapkan kondisi keuangan yang sehat memang tidak mudah. Tapi meminjam peribahasa :

Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian
Sehat Keuangan Dahulu, Investasi reksa dana Kemudian

Semoga artikel ini bermanfaat.

sumber:http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/07/0708005/Sehat.Keuangan.Dahulu.Investasi.Reksa.Dana.Kemudian.

Jumat, 18 November 2016

ASURANSI BEGITU PENTINGKAH?

ketahanan masyarakat dengan situasi kondisi yang tidak menentu menjadi tantangan dan target yang sangat membahayakan bagi kehidupan nanti kalau sempat terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, makanya perlunya suatu pegangan sebagai perlindungan diri kita. kalau sempat terjadi sesuai yang tidak di inginkan,

maka dari itu di perlukan suatu asuransi untuk melindungi kita dari resiko yang terjadi tersebut mari kita budayakan berasuransi.................. mari sobat warga nitizen