Sabtu, 03 Desember 2016

MENABUNG SAHAM MEMANEN KEMAKMURAN

Disiplin adalah kunci untuk menjadi orang sukses. Untuk menggapai kesuksesan finansial, disiplin saja tidak cukup, tetapi juga harus cerdas.

Minggu lalu sebuah surat masuk ke kotak surat elektronik (e-mail) saya, sebut saja dari Mukidi, karyawan perusahaan swasta yang usianya kini 40 tahun. Bunyinya demikian: ”Pak Lukas, kalau selama 20 tahun secara rutin saya menyisihkan uang Rp5 juta per bulan untuk investasi, berapa kekayaan saya 20 tahun mendatang (saat pensiun)?” Hmm, memberi jawabannya jauh lebih mudah daripada menjalaninya. Maklum, menabung bukan perkara gampang.
Kebanyakan orang lebih suka menikmati uangnya sekarang daripada menunda kenikmatan. Jumlah uang Mukidi di masa yang akan datang tergantung tiga hal: jumlah uang yang diinvestasikan secara rutin, lamanya berinvestasi, serta yang paling penting, berapa imbal hasil investasinya. Kita coba simulasikan beberapa skenario untuk Mukidi. Ada lima alternatif investasi bagi Mukidi: deposito, obligasi, emas, properti, dan saham.


Analisis saya dengan data 10 tahun terakhir di Indonesia mengindikasikan bahwa deposito memberikan rata-rata imbal hasil sekitar 8 persen per tahun, sedangkan obligasi menyodorkan rata-rata imbal hasil sekitar 11 persen per tahun. Imbal hasil emas dan properti hampir sama, sekitar 15 persen per tahun. Namun perlu dicatat bahwa untuk properti tergantung lokasi (kota). Perbedaan imbal hasil properti di kota besar dan kecil, misalnya, relatif besar.

Saham memberikan imbal hasil tertinggi, sekitar 20 persen per tahun. Kita asumsikan imbal hasil 20 tahun mendatang mencerminkan kondisi 10 tahun terakhir. Jika Mukidi mendepositokan uangnya setiap bulan, dengan asumsi memperoleh bunga 8 persen per tahun, kekayaannya 20 tahun mendatang adalah Rp2,945 miliar (lihat tabel). Angka ini Rp1,7 miliar lebih tinggi daripada alternatif menabung uang di celengan ayam alias tidak berbunga (yang hanya Rp1,2 miliar, dari 20x12xRp5 juta).

Rp2,945 miliar terasa besar sekali, tapi Mukidi tahu bahwa 20 tahun lagi harga barang dan jasa pasti sudah melonjak tinggi. Misalnya harga sebuah mobil hari ini Rp100 juta. Jika kenaikan harga mobil adalah sekitar 15 persen per tahun, harga mobil tersebut 20 tahun mendatang (future value) adalah Rp2 miliar! Uang Mukidi yang terasa besar tadi hanya cukup membeli satu setengah mobil yang harganya hari ini Rp100 juta.

Dari perspektif lain, jika uang Rp2,945 miliar kita nilai sekarang (present value ) dengan tingkat inflasi 8 persen per tahun, hasilnya adalah (hanya) Rp400 juta! Apabila tingkat inflasi ternyata lebih besar dari 8 persen per tahun, misalnya 10 persen, nilai sekarang dari uang tersebut makin kecil (Rp2,1 miliar). Perlu disadari bahwa untuk produk tertentu, tingkat inflasi bisa lebih besar daripada yang diumumkan oleh pemerintah.

Untuk produk premium, misalnya, kenaikan harganya bisa mencapai 15 persen per tahun. Maka, Mukidi harus mencari investasi yang bisa mengalahkan tingkat inflasi. Deposito, walaupun aman, jelas bukan lawan tangguh untuk inflasi. Jika Mukidi berinvestasi di obligasi (melalui reksa dana penghasilan tetap), uangnya akan menjadi Rp4,328 miliar (lihat Tabel). Lebih baik lagi jika ia berinvestasi di emas atau properti. Uangnya akan menjadi Rp7,486 miliar. Skenario terbaik adalah berinvestasi di saham. Uang Mukidi akan menjadi Rp15,548 miliar.
Perhatikan, perbedaan uang Mukidi 20 tahun mendatang jika ia memilih deposito dibanding saham adalah Rp12,6 miliar! Kuncinya ada pada suku bunga (imbal hasil). Perbedaan nilai pertumbuhan 8 persen per tahun dengan 20 persen per tahun akan semakin besar seiring bertambah panjangnya jangka waktu investasi. Ironisnya, mayoritas masyarakat kita lebih suka memilih Rp2,9 miliar daripada Rp15,5 miliar. Mengapa? Mengapa banyak orang masih takut berinvestasi saham?
Mayoritas masyarakat kita masih buta tentang saham atau punya persepsi yang kurang tepat tentang saham. Mereka belum sadar bahwa memiliki saham adalah memiliki sebuah bisnis/- perusahaan. Jika mereka bisa memilih bisnis yang baik dan membeli sekian persen dari bisnis tersebut pada harga yang wajar, niscaya kondisi ekonomi mereka akan lebih baik. Persepsi mereka, harga saham terlalu fluktuatif sehingga investasi saham terasa sangat spekulatif.
Sempat ada persepsi di sebagian masyarakat bahwa investasi/trading saham mirip judi. Keraguan terhadap investasi saham mulai berkurang setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Maret 2011 mengeluarkan sertifikat halal untuk mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas (saham). Kembali ke Mukidi, saya menyarankan agar dia mulai menabung saham.
Karena dia belum memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai tentang investasi saham, saya menyarankan dia untuk berinvestasi saham lewat reksa dana. Jika guru zaman dulu mengajarkan ”menabung (di bank) pangkal kaya”, guru modern bakal mengajarkan ”menabung saham pangkal kaya”.

 
 
Lukas Setia Atmaja
Financial Expert - Prasetiya Mulya Business School
 lukassetiaatmaja@gmail.com
sumber:sahampemenang.blogspot.com

LO KHENG HONG BERKISAH APA ADANYA

Terbaru dari investor summit 2015


LO KHENG HONG yang disebut-sebut sebagai “Warren Buffett”-nya Indonesia berbagi kisah sebelum dirinya “memegang” saham perusahaan-perusahaan besar seperti saat ini. Lo Kheng Hong disinyalir mempunyai uang “tertidur” di pasar modal sekira Rp 2,5 triliun selama 26 tahun menjadi investor saham.

Lo Kheng Hong menceritakan awal mula dirinya mengubah hidup dari yang tidak mempunyai apa-apa dan kini menjadi Warren Buffett-nya Indonesia.

"Orang tua saya dulu itu tinggal di daerah terpencil, 30 km dari Pontianak. Pekerjaannya hanya memecah buah kelapa dari subuh hingga sore . Orangtua saya bosan, kerjaannya seperti itu terus, lalu merantaulah ke Jakarta tanpa bawa apapun," ucap Lo Kheng Hong mengawali cerita saat Success Story dalam acara investor summit di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (10/11).

Dirinya menambahkan, orangtuanya pun kerja di toko dan beberapa tahun kemudian, lahirlah saya di Jakarta. "Jadi saya lahir di Jakarta, saya orang Betawi. Tapi saya tidak jadi gubernur, saya jadi investor saham di Indonesia," jelasnya.

Pada kala itu, Lo Kheng Hong menempati rumah yang cukup kecil yang terbuat hanya dari papan. Jika rumah di bagian depan sudah banjir, rumah dirinya sudah tenggelam. Tidak hanya itu, rumahnya pun tidak memiliki plafon dan langsung genting.

"Waktu itu saja, teman adik saya mau main ke rumah, tapi diajak putar-putar. Saya tanya kenapa, adik saya jawab ‘karena malu rumahnya kecil sekali’," kenang dia.

Lo Kheng Hong melanjutkan ceritanya, ketika sudah lulus SMA, langsung bekerja di perbankan sebagai pegawai tata usaha dan tidak bisa kuliah karena tidak ada uang. Setelah bekerja cukup lama, dirinya pun melanjutkan ke bangku kuliah.

Singkat cerita, dirinya pun sempat berpikir kenapa dilahirkan menjadi orang miskin. Namun, dengan usaha yang keras, Lo Kheng Hong terus bekerja hingga 11 tahun di perbankan dan beberapa kali pindah tempat, lalu mendapatkan uang yang cukup banyak. "Setiap dapat uang, gaji, saya beli saham. Sudah 26 tahun saya beli saham di BEI," jelasnya.

Sumber : Kaltim Post, sahampemenang.blogspot.cm

LO KHENG HONG : JADIKAN SAHAM SEPERTI ATM

Liputan Khusus Kontan 29 Agustus 2012. Sukses dan nama besar Warren Buffet di dunia investasi menuai kekaguman dari pemain saham di penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffet sebagai panutan, mempelajari strategi investasinya, dan menerapkannya. Di Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo Kheng Hong.
Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffet. Ia tak bergeming dan tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.
Bagi Lo, Buffet adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffet, kisah hidup
sang maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak sia-sia Lo membaca puluhan buku ‘ajaran’ Buffet, ia menarik pelajaran dari situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar dari bursa saham.  Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.
Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau pekerjaan apapun selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak menjuluki ayah dua orang anak ini sebagai Warren Buffet-nya Indonesia.
Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya sendiri kepada KONTAN berikut.
Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.
Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir untuk mengantar-antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor saham. Kalau ...>>>
mengisi formulir, misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi saya investor saham.
Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua investasi saya berhasil, saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.
Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan semakin terlatih.  Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang jatuh tapi bangun lagi.
Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu itu saya masih karyawan Bank Ekonomi, jadi saya hanya menyisihkan sedikit demi sedikit dari gaji saya. Kalau orang lain membelanjakan penghasilannya untuk macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji setiap bulan untuk membeli saham.
Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran perdana (IPO) PT Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya semangat membeli, eh nggak tahunya begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...
Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari saham bisa menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, saya berhenti dari Bank Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.
 Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham.
Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, Warren Buffet. Saya belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu tak hanya saya baca sekali, tapi saya ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.
Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja direksi dan karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak kan? Membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang.
Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.
Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada empat macam manusia. Tipe pertama,  orang yang punya banyak waktu tapi tidak punya uang. Contohnya, orang pengangguran.
Tipe kedua,  yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya para pengusaha. Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak uang juga. Ini kebanyakan para pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. Tipe terakhir inilah yang saya inginkan sebagai investor saham. Orang bilang, time is money. Buat saya tidak, waktu lebih berarti dari uang. Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa mengembalikan waktu.
Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi berbagai kota di lima benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa tinggal sampai sebulan di sana.
Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu saya pergi ke taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan keuangan itu makanan sehari-hari. Saya juga berlangganan empat koran, tiga di antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya saya baca dari halaman satu sampai habis.
Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. Saya ini manusia gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email atau internet apalagi online trading. Jadi saya membeli saham selalu lewat telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut kehilangan momentum meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka panjang.
Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah dan saya simpan.
Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.
Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan saya kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan keuangan. Tapi bagi saya, kalau dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu harus manajemen, manajemen, manajemen.
Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, hari esok itu misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan juga dari masa lalu. Bagi perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka panjang misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.
Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar.  Hitung berapa besar profit margin-nya dan return on equity-nya (laba per saham).
Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.
Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book value), bandingkan dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the others are fearful.
Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.
Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Waktu itu harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini baru Rp 250 per saham. Saya kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi naik 12.600%. Keuntungan itu saya realisasikan. Saham itu saya jual karena dia akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).
Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 seharga Rp 285. Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi setelah saya lepas, dia terbang lebih tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.
Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh hidupnya akan berisi penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. Tahan, enggak tahunya harga turun terus.
Selain dua saham itu, saya pernah mendapat keuntungan cukup besar dari PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).
Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga.
Saya juga pernah rugi.
Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah memakai fasilitas margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu investor yang sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia investasi saham dan jadi investor besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika investasinya gagal, dia bunuh diri.
Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya hancur, saya tidak apa-apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa naik lagi.
Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap membeli saham. Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham United Tractors (UNTR), saham bagus yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di Rp 250. Padahal, laba operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik terus. Pada tahun 2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi ini harga sesudah stock split. Kalau dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, jadi saya untung sekitar 6.000%.
Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.
Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada perusahaan yang menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli saham IPO, ketika sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan berapa pun dikasih.
Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis seperti ini.
Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan rumahnya, risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham di sektor perbankan, consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan saya rencananya akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti banyak saham bagus yang harganya murah. Ini kesempatan.
Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.
Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan? Berapa yang melakukan analisis fundamental? Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal dasar yang saya sebut tadi itu dan hanya melihat chart menurut saya tidak benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa yang dia beli.
Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa saham tidak punya belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.
sumber:https://sahampemenang.blogspot.co.id/2012/08/lo-kheng-hong-menjadikan-saham-seperti.html

Minggu, 27 November 2016

Mengelola Keuangan yang Sehat

Sehat itu tidak hanya bagus untuk tubuh. Jika keuangan kita pun sehat, maka semuanya dijamin lancar.Sehari-hari mungkin anda membuat pilihan tentang bagaimana, di mana dan kapan Anda akan menghabiskan uang Anda. Pilihan ini dapat memiliki mempengaruhi besar padakehidupan finansialAnda. Apakah anda menghabiskan banyak uang dengan kartu kredit setiap bulan? Apakah Anda menyimpan uang secara teratur? Kemana Uang Anda Pergi? Jika Anda tidak melacak pengeluaran Anda, Anda tidak tahu bagaimana Andamenghabiskan uangAnda. Ketika Anda tahu dari mana uang Anda masuk dan keluar, Anda merasa lebih memegang kendali. Luangkan waktu untuk berpikir tentang pengeluaran Anda.
Berikut ini adalah beberapa perilaku mengelola keuangan yang dapat mengubah hidup Anda, tentunya mengubah menjadi lebih baik. Perilaku ini fungsinya sederhana yaitu meningkatkan kendali dan pengawasan terhadap uang dan kondisi keuangan Anda.
Membuat Anggaran.Cara pertama agar Kita dapat mengendalikan keuangan adalah membuat anggaran. Seorang ahli manajemen bernama Peter Drucker mengatakan: jika Anda tidak dapat mengukur, Anda tidak dapat mengelolanya.Penulis mengakui membuat anggaran adalah salah satu hal yang membosankan dan bukan hal yang umum bagi sebagian orang. Pembuatan anggaran biasanya dibuat oleh istri. Kebiasaa tersebut sebaiknya diperbaiki dengan: membuat anggaran adalah tugas bersama antara Ayah dan Ibu.Apa manfaat membuat sebuah anggaran? Tentu saja Anda dapat mengendalikan pos-pos pengeluaran mana yang perlu dihemat, pos pengeluaran mana yang harus ditingkatkan dan sebagainya.Setelah membuat anggaran, hal apa yang harus dilakukan?
Mencatat Pengeluaran Harian.Mencatat pengeluaran harian adalah kebiasan atau perilaku yang belum lazim. Mencatat pengeluaran harian adalah salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran-pengeluaran. Pastikan pengeluaran actual mengikuti anggaran yang telah dibuat.Setelah membuat anggaran dan mencatat pengeluaran harian, langkah berikutnya adalah melakukan audit. Jangan mempersepsikan istilah audit dengan sebuah langkah yang kompleks dan susah. Lakukan audit keuangan keluarga Anda dengan cara yang sederhana. Mengecek bon atau nota dengan catatan. Membandingkan pengeluaran actual (yang ada di catatan pengeluaran harian) dan anggaran yang telah dibuat. Hasil dari audit bulanan ini digunakan sebagai cara pembelajaran, pengendalian dan umpan balik (feedback) dalam membuat anggaran bulan depan.
Membuat dan Melakukan Perencanaan Keuangan.Perilaku mengelola keuangan selanjutnya adalah melakukan perencanaan keuangan dan mulai melaksanakan. Perencanaan keuangan adalah salah satu cara untuk memenuhi tujuan-tujuan keuangan Anda, seperti dana darurat, dana pendidikan, dana hari tua, dana pembelian rumah dan lain sebagainya.Perencanaan keuangan ini dapat Anda lakukan sendiri atau dengan jasa professional perencana keuangan.
Cek Perkembangan Anda.Langkah berikutnya adalah mulai melakukan pengecekan perkembangan usaha yang sudah dilakukan. Pengecekan dilakukan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang Kita lakukan. Contoh Kita berinvestasi pada produk keuangan yang kurang sesuai dengan kebutuhan, perhitungan asumsi inflasi terlalu rendah, mengecek kebutuhan pendapatan pasif agar dapat bebas keuangan dan lain sebagainya.
Mungkin ada baiknya Anda juga mengubah cara Anda menghabiskan Uang.Setelah menilai bagaimana Anda mengelola uang Anda, Anda mungkin ingin mengubah kebiasaan pengeluaran dan menabung. Mampu mengelola lebih baik uang Anda akan membantu Anda mempersiapkan masa depan. Kebiasaan pengelolaan uang yang buruk terkadang dapat sulit untuk dikendalikan. Untuk mengatasi kebiasaan yang tidak diinginkan, pertimbangkanlah hal ini:
  1. Apa yang saya dapatkan? Jika Anda menghabiskan banyak uang tetapi menabung hanya sedikit, apa yang Anda dapatkan di masa tua? Anda bisa menikmati hidup sekarang dengan nyaman, tetapi bagaimana hari esok? Apakah selamanya anda akan sehat-sehat saja?
  2. Lihat sisi negatifnya? Jika Anda pergi belanja dan tidak membayar tagihan listrik Anda, Anda mendapatkan ?kesenangan? sementara waktu tetapi Anda mungkin kehilangan layanan yang sangat penting. Jika Anda tidak menyimpan uang, apa yang bisa terjadi jika timbul keadaan darurat? Jika Anda menyadari hal ini, Anda mungkin menyadari bahwa Anda tidak membuat pilihan yang baik.
  3. Berpikirlah sebelum Anda belanja. Setiap kali Anda menghabiskan uang tiu berarti Anda membuat pilihan resiko. Pilihan Anda harus mencerminkan nilai-nilai dan tujuan-tujuankeuangan. Sebelum mengeluarkan uang tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya membutuhkannya? Bolehkah aku membelinya? Apa ini benar-benar mendesak?
  4. Lakukan kebiasaan yang baik. Jika Anda benar-benar ingin menghilangkan kebiasaan buruk yang berkaitan dengan pengelolaan uang, gantilah dengan kebiasaan yang baik. Ini tidak mudah tetapi bisa jika dibiasakan. Sebagai contoh, kurangilah pengeluaran melebihi anggaran pada pakaian desainer, mulai menyisihkan uang untuk membayar uang muka rumah atau tujuan lainnya. Anda harus benar-benar ingin menghilangkan kebiasaan buruk, dan Anda harus berlatih untuk berubah.

Seberapa sehat keuanganmu?


JAKARTA. Sudah 90 hari sejak tahun baru, apa saja yang telah Anda lakukan untuk keuangan Anda? Mengevaluasi kesehatan keuangan adalah hal paling mendasar yang wajib Anda lakukan sebelum mulai berinvestasi.


Seseorang yang sehat secara finansial, umumnya tahu kondisi aset dan utangnya, mampu untuk selalu bayar cicilan utang tepat waktu, dan tahu bagaimana cara menggunakan aset dan sisa arus kas untuk mencapai berbagai keinginan dalam hidup. Apakah ini Anda?

Cara termudah untuk mengetahui kesehatan keuangan adalah dengan melakukan financial check up. Proses ini bisa dikerjakan sendiri atau pun bisa dengan konsultasi bersama seorang perencana keuangan. Anda akan diajak untuk menghitung ulang jumlah aset dan jumlah utang yang dimiliki saat ini. Selain itu, Anda juga akan diminta untuk membeberkan berapa jumlah penghasilan yang diterima setiap bulan dan ke mana saja larinya penghasilan tersebut.

Ada lima area yang harus Anda perhatikan untuk menentukan seberapa sehat keuangan Anda, dan seberapa dekat Anda dalam mencapai berbagai keinginan dalam hidup.

Pertama, dana darurat. Setiap orang wajib punya dana darurat setidaknya 3 kali pengeluaran rutin bulanan. Jadi, kalau tiap bulan perlu Rp 5 juta untuk hidup, maka jumlah dana darurat minimal adalah Rp 15 juta. Meski demikian, saya sangat sarankan Anda untuk menargetkan 12 kali pengeluaran rutin bulanan, mengingat kondisi ekonomi global yang masih kurang menentu.
Dana darurat ini harus berbentuk aset likuid dan nilainya tidak turun, seperti tabungan, deposito, dan reksadana pasar uang. Jika saat ini tidak punya dana darurat, mulailah menyisihkan 10% dari penghasilan, sedikit demi sedikit hingga hasil ideal tercapai.

Kedua, utang. Jumlahkan semua pembayaran minimum tagihan utang Anda. Ini termasuk kartu kredit, kredit kendaraan, kredit perumahan, dan kredit dana tunai. Jumlah total pembayaran segala cicilan utang Anda tidak boleh melebihi 35% dari penghasilan rutin bulanan. Khusus untuk cicilan kredit perumahan, porsinya tidak bisa melebihi 30% dari penghasilan rutin bulanan.
Misalkan, gaji bulanan Rp 10 juta, maka maksimal cicilan adalah Rp 3 juta. Jika cicilan Anda melebihi itu, Anda harus kerja ekstra membayar pokok utang agar cicilan per bulan bisa turun.

Jangan lupa diversifikasi

Ketiga, pundi-pundi pensiun. Siapkan masa depan Anda dengan mulai berinvestasi untuk dana pensiun. Percaya atau tidak, Anda pasti akan mengalami masa penurunan produktivitas. Untuk Anda yang karyawan, pasti akan pensiun. Untuk Anda yang punya bisnis, ada masanya meneruskan bisnis ke anak. Merencanakan dana pensiun sangat vital untuk Anda yang tidak rela punya gaya hidup yang menurun di masa depan.
Coba periksa berapa banyak dari penghasilan sekarang yang disisihkan untuk investasi pensiun. Anda yang karyawan, umumnya telah menyisihkan 8% dari gaji dalam bentuk JHT Jamsostek dan produk DPLK. Tapi, nilai ini tidak cukup!

Usahakan untuk menyisihkan 10% dari penghasilan ke produk investasi yang sesuai untuk dana pensiun. Jika ada bonus atau THR, Anda bisa gunakan momentum ini untuk menambal kekurangan investasi di bulan-bulan sebelumnya.

Keempat, pundi-pundi pendidikan. Di Indonesia, biaya pendidikan menjadi ketakutan terbesar banyak orangtua. Bagaimana tidak, dengan kenaikan biaya pendidikan yang rata-rata bisa mencapai 15% per tahun, Anda tidak bisa trial and error dalam mempersiapkan masa depan si buah hati.
Pastikan Anda sudah menghitung berapa kebutuhan dana pendidikan anak Anda dan Anda sudah berinvestasi untuk mencapainya. Ingat, saya minta Anda berinvestasi, bukan berasuransi untuk menambah saldo dana pendidikan.

Kelima, asuransi. Melindungi nilai aset dan nilai ekonomis jiwa Anda sangatlah penting. Satu kejadian sakit keras atau musibah yang dapat melenyapkan rumah, dapat menghancurkan kesehatan keuangan Anda. Jika Anda punya tanggungan (anak, orangtua, atau saudara), maka punya asuransi jiwa murni menjadi wajib untuk Anda.
Proteksi diperoleh dengan asuransi, menambah jumlah kekayaan yang diperoleh dengan menabung dan berinvestasi. Evaluasi kebutuhan proteksi Anda, dan pastikan Anda punya asuransi yang benar-benar dibutuhkan oleh keluarga Anda.

Keenam, diversifikasi kekayaan. Mari evaluasi aset, dana pensiun, dan dana pendidikan Anda. Apakah aset Anda terdiversifikasi dengan baik? Atau, nyaris 100% uang Anda ada di tabungan dan deposito? Memiliki aset yang tersebar di tiga alokasi berbeda adalah hal yang bijaksana. Kombinasi yang harus ada: aset likuid stabil (tabungan, deposito), aset investasi fisik (logam mulia, properti), dan aset investasi di pasar modal (reksadana, ORI, sukuk ritel, saham).
Untuk masing-masing kategori, Anda bisa pilih salah satu. Perhatikan tujuan finansial Anda, situasi Anda saat ini, dan berapa banyak waktu yang Anda punya untuk mencapai berbagai keinginan tersebut.

Memiliki keuangan yang sehat adalah langkah awal menuju tahap financial freedom. Seperti halnya tubuh manusia, kesehatan keuangan itu harus diraih dan dipelihara. Pastikan rapor Anda hijau untuk enam prioritas di atas. Betul, sehat itu bukan segalanya. Tapi, tanpa sehat, segalanya jadi tak berarti. Live a beautiful life!

sumber:http://personalfinance.kontan.co.id/news/seberapa-sehat-keuanganmu

Sehat Keuangan Dahulu, Investasi Reksa Dana Kemudian... Selasa, 7 April 2015 | 07:08 WIB

Oleh Rudiyanto*
@rudiyanto_zh

KOMPAS.com - reksa dana memiliki slogan pahami, nikmati. Artinya investor diminta untuk memahami risiko dan cara kerjanya, baru menikmati hasil keuntungan reksa dana

Pertanyaannya, apakah dengan paham saja sudah cukup? Tentu tidak. Jika diibaratkan, proses investasi reksa dana untuk mencapai tujuan keuangan adalah maraton, bukan sprint

Untuk bisa “berlari” dalam jangka panjang, tentu tidak cukup hanya punya target mau mencapai garis finish dan bagaimana cara berlari yang benar saja, akan tetapi fisik juga harus dipersiapkan.

Investasi reksa dana juga demikian. Secara keuangan, kita harus sehat sebelumnya melakukan investasi di reksa dana. Jika tidak, ibarat lari maraton, sebelum sampai pada tujuan anda sudah berhenti karena “kram” di tengah jalan.

Seperti apa kondisi keuangan yang dikatakan sehat sehingga seseorang bisa menjadi investor reksa dana yang baik ? Sama seperti tes darah, sehat atau tidaknya seseorang bisa dari angka indikator seperti kandungan gula darah, kolestrol, asam urat, creatin, dan lainnya.

Secara keuangan, caranya juga kurang lebih demikian. Bedanya, bahan yang di tes adalah 4 informasi keuangan pribadi yaitu penghasilan, pengeluaran, harta dan utang. 

Berdasarkan informasi keuangan tersebut, sehat atau tidaknya keuangan seseorang bisa diukur menggunakan angka rasio sebagai berikut:

1. Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran
Pendapatan adalah semua penghasilan yang sifatnya rutin seperti gaji dan tidak rutin seperti komisi. Pengeluaran adalah mulai dari belanja kebutuhan rutin, tranportasi, rekreasi, cicilan utang dan lainnya. 

Yang tidak termasuk pengeluaran adalah kegiatan investasi seperti menabung uang di bank, membeli emasreksa dana dan instrumen investasi lainnya secara uang tunai.

Misalkan pendapatan anda secara bulanan rata-rata Rp 12 juta dan pengeluaran anda adalah Rp 10 juta, maka Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran adalah Rp 12 juta dibagi Rp 10 juta = 1,2. Sehat adalah jika rasio ini di atas angka 1.

2. Rasio Cicilan Produktif dan Cicilan Konsumtif
Dengan harga tanah, rumah, apartemen, mobil, motor yang semakin meningkat, adalah sangat wajar jika seseorang memiliki utang. 

Sepanjang utang ini dipergunakan untuk tujuan yang sifatnya produktif, maka seseorang masih bisa dikatakan sehat secara keuangan.

Ada 2 kondisi berutang yang bisa menyebabkan seseorang dikatakan tidak sehat secara keuangan. Pertama cicilan utang produktif dibagi dengan total pendapatan bulanan lebih besar dari 30 persen.

Misalkan penghasilan anda Rp 10 juta, untuk menunjang tranportasi ke kantor anda mengambil cicilan mobil dengan nilai Rp 4 juta setiap bulan. Sehingga jika dihitung rasionya 40 persen (Rp 4 juta bagi Rp 10 juta). 

Kedua, cicilan utang konsumtif dibagi dengan total pendapatan bulanan lebih besar dari 0 persen. Yang dimaksud dengan cicilan utang konsumtif adalah cicilan yang dipergunakan untuk membeli barang yang sifatnya konsumtif seperti smartphone, perhiasan, dan lainnya.

Artinya begitu punya utang konsumtif, langsung seseorang dinyatakan tidak sehat secara keuangan. Sedikit fleksibilitas, apabila smartphonedipergunakan untuk membantu pekerjaan bisa dikategorikan produktif. Jika mayoritas hanya digunakan untuk main game, maka masuk kategori konsumtif.

3. Rasio Dana Darurat
Dana Darurat adalah sejumlah uang yang disimpan dalam bentuk yang mudah dicairkan. Bisa tabungan, emas batangan, ataupun reksa danapasar uang.

Seseorang dikatakan sehat apabila rasio antara Dana Darurat dibandingkan dengan pengeluaran bulanannya antara 3 – 12 kali bulan pengeluaran. Misalkan total tabungan di bank adalah Rp 30 juta, sementara rata-rata pengeluaran per bulan Rp 10 juta, maka diperoleh rasio 3 (Rp 30 juta dibagi Rp 10 juta).

Dana darurat sangat penting karena ketika ada kejadian seperti keluarga atau teman dekat masuk rumah sakit, terkena PHK, atau kondisi darurat lainnya kita tidak perlu panik dan terpaksa menjual semua aset kita dengan harga Butuh Uang alias BU.

Bahkan ketika terjadi gejolak di bursa saham, sebagian dari dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membeli di harga rendah.

Semakin banyak anggota keluarga, maka semakin banyak dana darurat yang dibutuhkan. Namun terlalu banyak juga tidak baik karena hasil pada instrumen investasi yang mudah dicairkan itu biasanya tidak besar.

4. Rasio Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa
Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada tertanggung apabila yang bersangkutan membeli asuransi jiwa dan mengalami risiko meninggal dunia.

Kenapa asuransi penting? Sebab ketika seseorang yang menjadi tulang punggung pencari nafkah meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan akan mengalami kesulitan. 

Dengan adanya asuransi, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga tersebut selama beberapa waktu sampai mereka bisa mandiri dan menafkahi diri sendiri.

Sama seperti dana darurat, tidak ada asuransi jiwa tidak baik, tapi terlalu banyak juga tidak baik karena biaya asuransi yang dibayarkan cukup besar. 

Besaran uang pertanggungan asuransi yang wajar untuk seseorang atau disebut juga dengan istilah Human Life Value adalah sekitar 8 – 10 tahun pengeluaran ditambah biaya pendidikan hingga anak lulus perguruan tinggi.

Sebagai contoh, jika pengeluaran per bulan adalah Rp 5 juta dan untuk menyekolahkan anak sampai dengan lulus butuh Rp 100 juta, maka besaran uang pertanggungan yang sesuai Human Life Value adalah Rp 5 juta x 120 bulan + Rp 100 juta = Rp 700 juta.

Mengapa asuransi lain seperti kesehatan, penyakit kritis dan cacat tetap tidak diperhitungkan? Sebab saya mengasumsikan semua tersebut dalam kondisi terburuk sudah ditanggung negara melalui program BPJS Kesehatan.

Kesimpulan
Jadi, seseorang dikatakan sehat secara keuangan sehingga sudah siap untuk menjadi seorang investor reksa dana yang diharapkan bisa mencapai kesuksesan finansial, maka indikatornya sebagai berikut :

Indikator
Keterangan Sehat
Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran
> 1
Rasio Cicilan Produktif
Rasio Cicilan Konsumtif
Maks 30%
Maks 0%
Rasio Dana Darurat
Antara 3 – 12
Rasio Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa
8 – 10 Tahun + Biaya Pendidikan anak

Membuat kondisi keuangan yang sehat selalu tidak mudah. Apalagi bagi kaum muda yang baru pertama kali masuk kerja. Boro-boro ada yang bisa disisihkan. Bisa cukup sampai dengan akhir bulan saja sudah syukur.

Untuk itu, persiapan untuk 2 indikator yaitu dana darurat dan pertanggungan asuransi jiwa dapat dilakukan secara pararel. Artinya meski dana darurat dan asuransi jiwa belum punya atau masih sedikit, investasi reksa dana sudah bisa dimulai.

Jika memang penghasilannya benar-benar tidak cukup, minimal fokus pada dana darurat dulu. Asuransi baru penting ketika seseorang sudah menikah dan menjadi kepala keluarga.

Mempersiapkan kondisi keuangan yang sehat memang tidak mudah. Tapi meminjam peribahasa :

Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian
Sehat Keuangan Dahulu, Investasi reksa dana Kemudian

Semoga artikel ini bermanfaat.

sumber:http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/07/0708005/Sehat.Keuangan.Dahulu.Investasi.Reksa.Dana.Kemudian.